Motivation Letter
Saya berpendapat bahwa diri
sendiri adalah orang pertama yang harus dipahami sebelum saya memahami orang
lain. Akan tetapi, terkadang dalam waktu
tertentu, saya kurang memahaminya. Tentu hal ini termasuk krusial karena memiliki
pemahaman mendalam tentang diri sendiri merupakan penentu utama untuk apa pun
yang saya kerjakan. Menurut beberapa pendapat psikolog, setiap orang memiliki
cara yang unik dan berbeda untuk menghadapi dan menjalani hidupnya. Sekali seseorang
telah menemukan pola dan kebiasaan yang bisa membuatnya lebih memahami diri
sendiri, dia akan bisa lebih mantap membuat keputusan dari pilihan-pilihan
berbeda dari sebelumnya yang tidak
pernah dia ambil. Maka sangat penting untuk memahami perbedaan cara masing-masing,
ini juga berguna untuk meminimalisir kemungkinan munculnya tekanan yang timbul
secara internal (dalam diri) maupun eksternal (dari lingkungan).
Tentu saja dibutuhkan kerja keras
dan keberanian untuk bertanya tentang hal-hal besar pada diri sendiri seperti
tentang apa yang sebenarnya diinginkan, mengapa merasakan apa yang tengah dirasakan,
serta pertanyaan-pertanyaan lain dan bersiap untuk mendapatkan jawaban dari
realita yang tidak sesuai dengan keinginan. Kebenaran tentang kesalahan yang dilakukan,
tentu bukan sebuah kabar baik yang ingin didengar. Akan tetapi, harus dihadapi
dengan lapang dada dan tanggung jawab agar hal tersebut dapat memberi informasi
yang positif dan berharga. Melakukan evaluasai diri memang tidak mudah, karena sejujurnya
membuka aib sendiri merupakan sebuah kegiatan yang tak menyenangkan. Memang lebih
mudah mencari perlindungan di balik berbagai alasan, daripada menghadapinya.
Padahal, melakukan evaluasi diri secara menyeluruh merupakan hal kritis yang sangat
perlu dilakukan. Dalam menghadapi berbagai permasalah tersebut, terdapat
beberapa cara yang saya lakukan, tiga diantaranya adalah hal yang sering dilakukan.
Pertama, kenali perilaku lama, dengan begitu saya dapat mengingat kembali apa
yang sudah saya lakukan dalam mengatasi permasalahan terdahulu. Kedua, meminta
masukan dari orang lain khususnya orang tua tentang perilaku diri kita sendiri.
Ketiga, melakukan hobi, dengan harapan dapat mengenali diri sendiri lewat
hal-hal yang disukai.
Menerima diri sendiri merupakan
kemampuan yang harus ada untuk
menghargai setiap bagian dari diri sendiri. Banyak cara menerima diri sendiri.
Kenali kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Dengan mengenali kelebihan saya
dapat lebih menghargai diri sendiri, sedangkan dengan mengenali kekurang
membuat saya menyadari apa yang salah dengan saya dan berusaha memperbaikinya. Tetap
menghargai sisi baik diri sendiri maupun kekurangan yang perlu diperbaiki, dan
mensyukurinya sebagai pemberian Sang Pencipta. Tidak membandingkan diri sendiri
dengan orang lain karena setiap manusia diberi kelebihan dan kekurangan yang
berbeda. Acuh tak acuh terhadap komentar orang lain selama hal tersebut tidak
membangun diri sendiri. Dan yang sering terlupakan adalah memperhatikan lingkungan
sekitar. Menurut saya, menerima diri sendiri dapat menjadi obat bagi rasa kurang
percaya diri. Lingkungan atau pergaulan yang tidak tepat dapat menghancurkan
kepercayaan diri yang sudah susah payah dibangun tersebut.
Kunci utama untuk memiliki kehidupan
yang bahagia dan sehat selain memahami diri sendiri dan menerima diri sendiri adalah menyayangi diri sendiri. Menyayangi
diri sendiri ada perkara yang cukup populer, tetapi masih terdapat beberapa
kendala. Mulai dari ketidakmampuan hingga kesalahan presepsi. Ada yang mengatakan
bahwa sayang diri sendiri adalah sikap narsis atau egois. Ada pula yang
berpikir menyayangi diri sendiri berarti harus memanjakan diri dengan
kemewahan. Menyayangi diri sendiri tidaklah harus selalu melakukan hal-hal
semacam itu. Cara saya menyayangi diri sendiri yang dirasa tepat adalah memilah
antara waktu sendiri dengan orang tercinta serta melakukan apa saja yang disukai
dan membuat bahagia agar lebih produktif. Rasa produktif ini yang nanti dapat meningkatkan
kualitas hidup.
